DBD Mengintai Anak di Rumah dan Sekolah, Ini Langkah Pencegahannya

 



Jakarta, 31 Juli 2026 – Memasuki tahun ajaran baru, orang tua diingatkan untuk tidak hanya menyiapkan perlengkapan sekolah, tetapi juga memastikan perlindungan anak dari demam berdarah dengue (DBD). Berdasarkan data Kementerian Kesehatan periode 2018–2025, kelompok usia 5–14 tahun secara konsisten mencatat proporsi kematian akibat dengue tertinggi. Pada 2025, sebanyak 59 persen kematian akibat dengue terjadi pada anak usia 0–14 tahun, dengan 41 persen berasal dari kelompok usia 5–14 tahun.


Momentum tahun ajaran baru yang berdekatan dengan Hari Anak Nasional 2026 bertema "Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan" menjadi pengingat pentingnya menjaga kesehatan anak agar proses belajar dan tumbuh kembang tidak terganggu.


Dokter sekaligus kreator konten, dr. Ikhsanuddin Qothi, menegaskan bahwa DBD bukan penyakit musiman. "DBD bukan penyakit musiman. Risiko penularannya ada sepanjang tahun, sehingga kewaspadaan perlu dijaga setiap saat. Pada musim kemarau pun, tempat yang menampung air tetap dapat menjadi sarang nyamuk Aedes aegypti jika tidak dibersihkan secara rutin," jelas dr. Ikhsan.


Ia menjelaskan, virus dengue memiliki empat serotipe (DENV-1, DENV-2, DENV-3, dan DENV-4) yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti, yang aktif terutama pada pagi dan sore hari.


Menurutnya, risiko penularan tetap tinggi ketika anak beraktivitas di rumah maupun di sekolah. Karena itu, sekolah juga perlu aktif menerapkan pencegahan melalui pemberantasan sarang nyamuk, pemantauan jentik, dan penerapan 3M Plus.


Dr. Ikhsan mengingatkan bahwa seseorang tetap dapat terinfeksi kembali oleh serotipe dengue yang berbeda meski pernah mengalami DBD sebelumnya. "Infeksi berikutnya justru dapat meningkatkan risiko dengue berat. Hingga saat ini belum ada obat khusus untuk menyembuhkan dengue, sehingga pencegahan, deteksi dini, dan penanganan medis yang tepat sangat penting," tegasnya.


Ia juga mengimbau orang tua segera membawa anak ke fasilitas kesehatan apabila mengalami tanda bahaya seperti muntah terus-menerus, nyeri perut hebat, mimisan, gusi berdarah, tubuh sangat lemas, gelisah, atau penurunan kesadaran. Selain mengganggu kesehatan, DBD juga berdampak terhadap aktivitas belajar anak karena harus absen sekolah dan membutuhkan waktu pemulihan yang tidak singkat.


Di sisi lain, beban ekonomi keluarga juga cukup besar. Studi Universitas Gadjah Mada memperkirakan beban ekonomi dengue di Indonesia pada 2024 mencapai hampir Rp9 triliun, termasuk biaya pengobatan, transportasi, hingga hilangnya pendapatan orang tua yang harus mendampingi anak selama perawatan.


Dr. Ikhsan menekankan bahwa perlindungan dari DBD memerlukan langkah pencegahan yang komprehensif. "Penerapan 3M Plus harus dilakukan secara konsisten, mulai dari menguras dan menutup tempat penampungan air, mendaur ulang barang yang dapat menampung air, menggunakan pelindung diri dari gigitan nyamuk, hingga mempertimbangkan vaksinasi dengue sebagai bagian dari pencegahan yang komprehensif," ujarnya.


Ia menambahkan bahwa vaksin dengue telah masuk dalam rekomendasi imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) untuk anak dan rekomendasi imunisasi dewasa dari Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI). Orang tua dianjurkan berkonsultasi dengan dokter untuk mengetahui kelayakan vaksinasi bagi anak dan anggota keluarga.


Andreas Gutknecht, Presiden Direktur PT Takeda Innovative Medicines, mengatakan perlindungan terhadap DBD membutuhkan keterlibatan semua pihak. "Sebagai orang tua, saya memahami betapa beratnya melihat anak sakit. Ketika seorang anak terkena DBD, seluruh keluarga ikut terdampak, mulai dari aktivitas hingga kondisi ekonomi. Semua orang berisiko terinfeksi dengue, sehingga perlindungan harus dimulai dari keluarga melalui 3M Plus secara berkelanjutan dan mempertimbangkan metode pencegahan yang inovatif. Namun upaya ini tidak bisa dilakukan keluarga saja. Sekolah, pemerintah, tenaga kesehatan, dan berbagai pihak lainnya perlu berkolaborasi. Sejalan dengan target nasional Nol Kematian Akibat Dengue 2030, Takeda berkomitmen mendukung pemerintah melalui edukasi dan kolaborasi lintas sektor untuk memperkuat pencegahan dengue di Indonesia," tutup Andreas.


Informasi lebih lanjut mengenai DBD dan upaya pencegahannya dapat diakses melalui www.cegahdbd.com

LihatTutupKomentar